Penanganan Stunting Sumbawa Barat Semakin Baik, Penderita Berkurang

Sumbawa Barat – Penapewarta

Capain Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sebagai salah satu Kabupaten terbaik dalam penanganan Stunting nampaknya akan mampu dipertahankan, menyusul terus dilakukannya berbagai upaya penanganan dan pencegahan yang ‘berbuah manis’, yakni turunnya angka penderita stunting.

Kepala Dinas Kesehatan KSB, H Tuwuh, mengungkapkan, angka stunting secara Nasional melalui Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 mencapai 30,8 persen dan di tingkat propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebanyak 32 persen, sementara di KSB hanya mencapai 18,3 persen. Atas capain tersebut, KSB mendapat penghargaan sebagai Kabupaten terbaik dalam penanganan Stunting.

Kepastian adanya penurunan jumlah penderita stunting di KSB pada tahun ini, diketahui setelah adanya pemantauan status gizi seluruh balita melalui penimbangan massal pada Februari 2020. Penimbangan masal tersebut dilaksanakan di seluruh posyandu yang ada di Sumbawa Barat.

“Dari hasil penimbangan serentak Februari tahun 2020 angka Stunting di Sumbawa Barat sudah berkurang dari 18 persen. Kami akan terus mengupayakan penanganan dan pencegahan agar jumlah penderita stunting bisa diminimalisir,” ungkap H Tuwuh.

Dikes KSB mencatat, penimbangan serentak Februari 2020 dilakukan pada 11.393 balita, dan diketahui sebanyak 15,1 % balita menderita stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama. Penetapan kriteria balita stunting berdasarkan permenkes nomor 2 tahun 2020 tentang standar pengukuran antropometri pada Balita.

Ia menambahkan, penimbangan massal dilakukan dua kali dalam setahun. Penimbangan dilakukan guna mengetahui perkembangan penderita stunting dan mendeteksi dini jika ditemukan adanya penderita baru.

“Pendampingan terus dilakukan pada ibu dan anak guna memastikan mereka mendapat asupan gizi yang cukup. Dan saat ini juga (Agustus) kami sedang dalam tahap penimbangan massal ke dua. Hasilnya sekitar September baru diketahui,” kata H Tuwuh.

Salah satu kegiatan pendampingan: bersama warga membuat jajanan anak dari bahan daun kelor

Ia menambahkan, pendampingan juga membutuhkan kerjasama dari orang tua. Salah satu contohnya melalui pengawasan dan perhatian pada asupan anak. Upaya yang dilakukan adalah dengan memaksimalkan pemanfaatan makanan lokal untuk dijadikan makanan utama ataupun selingan untuk Balita. Selain itu juga diharapkan kepada masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih jajanan instan yang kandungan gizinya tidak sesuai dengan standar pemberian makan bayi dan anak yang dianjurkan.

Untuk kasus stunting di Sumbawa Barat, umumnya disebabkan karena pola asuh pemberian makan pada Balita yang belum sesuai standar. Oleh Sebab itu Dikes KSB mengoptimalkan program pendampingan terhadap ibu Balita antara lain edukasi tentang Gizi seimbang, pendampingan penyiapan makanan sehat untuk Balita melalui kegiatan pos Gizi yang dilaksanakan di masing masing posyandu oleh petugas kesehatan dan kader dalam rangka memberi edukasi terhadap ibu balita tentang bagaimana contoh makanan sehat untuk Balita.

Program pencegahan dan penanggulangan stunting di KSB dilaksanakan oleh berbagai sektor terkait yang tergabung dalam Tim Konvergensi Stunting yang diketuai oleh Kepala Bapeda yang beranggotakan OPD terkait , pihak swasta, organisasi wanita, Baznas, dan stake holder lainnya yang mempunyai kontribusi penting dalam mencegah stunting.

“Tidak ada stunting di KSB yang disebabkan karena tidak adanya makanan. Lebih disebabkan karena pola asuh. Begitupun halnya dengan gizi buruk, hanya kurang dari 1 persen itupun karena anak yang bersangkutan menderita penyakit lain,” tandas H Tuwuh.(P-01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *