ADVERTORIALSOSBUD

Webinar 20 Tahun KSB: Bupati Paparkan Langkah – langkah Penanganan Data Kemiskinan

Sumbawa Barat – Penapewarta

BPS bersama Pemkab Sumbawa Barat melaksanakan Webinar 20 Tahun KSB, dan Launching Website Desa Dengan Tema Gotong royong membangun data berkualitas menuju Desa Mandiri. Kegiatan tersebut berlangsung secara During dan Luring yang diselenggarakan diruang pertemuan Graha Fitrah, Jumat (24/11).

Dalam laporan pembukanya Kepala BPS Kabupaten Sumbawa Barat Yassinta Ben Katarti Latiffa Dinar, SST, M.Si menyampaikan bahwa Semangat gotong royong telah menjadi sendi pembangunan, dan menjadikan Sumbawa Barat juara berangkat dari desa.”Launching website desa telah menunjukkan eksistensinya dengan melakukan pelayanan publik melalui website desa. Dengan digitalusasi data, Jarak waktu dan biaya bisa dipangkas,” terang Yasinta.

Dalam kesempatan tersebut sekaligus dilakukannya peluncuran Website Desa Kalimantong dan Desa manemeng. Hal tersebut sebagai bentuk Pelayanan publik berbaisis digital. “Ini akan memanjakan masyarakat desa untuk memperoleh pelayanan,” kata Yassinta

Sementara itu, Kepala BPS NTB Drs Wahyudi, MM menyampaikan bahwa program Desa cantik (Desa Cinta Statistik) sudah dilakukan di masing masing Kabupaten/Kota. Pembukaan program desa cantik ini sebagai dasar melalui level yang paling rendah yaitu desa.”Ini bertujuan untuk satu data Indonesia, dengan melibatkan seluruh unsur Pemerintahan, membentuk agen statistik di level desa dan kelurahan agar penanganannya bisa cepat. Memerlukan kolaborasi Pemerintah Daerah, Bupati/Walikota, Camat, Kepala Desa, dan Lurah,” jelasnya.

Dirinya juga berharap kepada Pemerintah Daerah agar dapat memanfaatkan reksoseg dalam penanganan kemiskinan. Demikian juga dalam rangka Desa cantik, dirinya berharap agar dapat terbangunnya literasi data di desa dan kelurahan, serta tersedianya dokumen pemanfaatan data regsosek, tersedisnya agen-agen statistik di desa dan kekurahan.”Dengan terselenggaranya program tersebut akan tercipta outcome menejaemen data yang baik, terbangunnya tingkat kesadaran statistik yang tinggi. Ini semua akan mendorong terjadinya perubahan status indek desa ke arah yang lebih baik,” jelasnya.

Ditambahkan Wahyudi bahwa Desa Kalimantong masuk dalam 20 Desa terbaik se Indonesia. “Mudah – mudahan nantinya bisa menjadi 10 terbaik,” harapnya

Bupati Sumbawa Barat dalam sambutannya menyampaikan bahwa, dirinya mulai kenal BPS itu pada tahun 2003 yaitu pada saat perjuangan pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat, dan saat itu kepala BPS dipegang oleh Bapak Mukhsin.”Mulai saat itu kita tidak berani rekayasa data karena nanti di pusat kita ketahuan, jadi kita menyusun data seadanya untuk kebutuhan perjuangan pembentukan KSB,” ungkap Bupati

Bupati menambahkan bahwa akan terus berkomitmen mendorong lahirnya data berkualitas. Seperti contohnya dalam penanganan data fakir miskin yang ada di KSB. “Kami punya agen gotong royong yang menjalankan fungsi statistik yaitu sebanyak 684 agen di seluruh blok area yang menangani 150 kk oleh 3 agen. Awalnya kita kasi tugas penggunaan elpiji-elpiji. Mereka langsung mendata kondisi sebenarnya yang dialami oleh warga. Sering sekali para agen bertemu dengan warga yang rumahnya jelek tapi sawahnya banyak. Ada juga mereka para peternak ketika ditanya berapa jumlah ternaknya, mereka jawab cuma 2, padahal sebenarnya banyak. Nah berkaitan dengan data masyarakat miskin yang coba di data oleh agen yaitu sebesar 3,32 ℅. Data tersebut merupakan hasil pendataan langsung mereka para agen di paliuknya masing – masing,” urai Bupati.

“Itulah sebabnya saya pernah mengajukan kepada BPS agar bisa memanfaatkan para agen ini untuk melakukan pendataan dilapangan, bila perlu kami yang bayar, yang terpenting tenaga mereka para agen ini bisa dimanfaatkan oleh BPS dalam melakukan pendataan. Sehingga data kemiskinan di KSB kami berj nama FM 3,32 yang artinya Fakir Miskin 3,32 ℅,” sambung Bupati.

Berkaitan dengan hal itu, Bupati menegaskan bahwa tidak ada sedikit pun maksud merekayasa data.”Tidak ada maksud me mark up data karena kita bisa bunuh diri nantinya. Kami melayani kemiskinan by name by a dress. Begitu salah cara menangani kriteria, maka itu yang menyebabkan yang tidak miskin menjadi miskin. Kami ingin melakukan pelayanan berdasarkan data berkualitas. Data yang kami pakai tidak mungkin data yang kami buat-buat,” tandas Bupati. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *