ADVERTORIALPARIWISATASOSBUD

AMMAN Upayakan Pembibitan Mangrove di Pulau Namo Gili Balu

Sumbawa Barat – Penapewarta
PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) berkomitmen untuk menjaga kelestarian ekosistem mangrove Gili Balu di kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat. Ini dibuktikan dengan adanya upaya pembibitan berbagai jenis tanaman mangrove yang dipusatkan di pulau Namo.

Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto menjelaskan, pembibitan mangrove merupakan salah satu kontribusi Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN dalam upaya pelestarian alam yang dijalankan melalui Program TransformaSea Gili Balu. Program tersebut dilakukan berbasis Riset Terapan berdasarkan kaidah ilmiah, yang dalam hal ini diimplementasikan dan didampingi secara teknis oleh mitra pelaksana program Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan (PKSPL) dari IPB University.

“Nursery (pembibitan) yang saat ini kita fokuskan di pulau Namo, merupakan bagian dari Program TransformaSea Gili Balu dalam bentuk implementasi Public – Private – Community Partnership yang dilaksanakan secara terpadu, di mana masyarakat (community) sebagai pelaku utama melakukan pemberdayaan, yang kegiatannya didukung oleh pemerintah (public) dan swasta (private),” jelas Aji Suryanto. Sabtu (03/08).

Ia menambahkan, TransformaSea Gili Balu sebuah program komprehensif pengembangan ekowisata yang bertanggung jawab, sekaligus menjaga kawasan konservasi di Gili Balu. Komitmen AMMAN dalam menjaga kelestarian Gili Balu adalah salah satu kontribusi untuk pelestarian alam dan mendorong pariwisata unggulan di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Serta, meningkatkan daya tarik pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB), sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

“Kolaborasi antara Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB dan AMMAN tercantum dalam Perjanjian Kemitraan tentang ‘Pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Wisata Perairan Gili Balu di Provinsi Nusa Tenggara Barat sejak 2022-2027,” urainya.

Taman Wisata Perairan (TWP) Gili Balu dimaksud, berada di Kecamatan Poto Tano yang terdiri dari delapan pulau, yakni Pulau Kenawa, Pulau Paserang, Pulau Kambing, Pulau Belang, Pulau Namo, Pulau Kalong, Pulau Mandiki dan Pulau Ular. Setiap pulau ini memiliki keunikan masing-masing yang jika dikelola dengan baik menawarkan potensi wisata bahari yang menjanjikan dengan peluang ekonomi berkelanjutan untuk masyarakat lokal.

Imam Bustan Pramudya Yudi Ananta Koordinator Pokja PPM, DitJen Minerba, Kementerian ESDM RI, mengatakan, “Dari peninjauan titik pantau kinerja program Pengembangan dan Pemberdayaan (PPM) di AMMAN, yang salah satunya di Pulau Namo-Gili Balu, terlihat Program PPM AMMAN telah diupayakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat lingkar tambang. Semoga AMMAN terus membenahi tata kelola penyelenggaraan program PPM, sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat kehadiran AMMAN di KSB,” ujar Imam.

Wakil Kepala PKSPL IPB Bidang Program Pengelolaan SDA dan Lingkungan, Andi Afandy, juga mengatakan, Pulau Namo dijadikan tempat pembibitan mangrove karena areanya yang cocok dan dipengaruhi pasang surut air laut. Selain itu Pulau Namo juga merupakan pulau terdekat dengan pemukiman penduduk sehingga memudahkan kelompok pengelola wisata Poto Tano mitra PKSPL untuk melakukan pengecekan dan perawatan bibit.

“Di Area pembibitan ini terdapat sekitar 1,435 bibit tanaman Mangrove. Bibit ini kita ambil dari pulau lain yang masih berada di kawasan Gili Balu. Paling lambat di usia 3 bulan, bibit- bibit ini sudah harus ditanam,” jelas Andy Afandy.

Mangrove yang baru ditanam di Pulau Namo. Bibit mangrove diambil di kawasan Gili Balu dan dibudidayakan di Pulau Namo untuk di tanam kembali di pulau-pulau kecil lainnya.

Untuk kawasan Gili Balu, lanjut Andy, dibutuhkan sekitar 300.000 bibit guna mengembalikan ekosistem mangrove. Sebab itu pembibitan dilakukan di Pulau Namo karena sebelumnya pernah mendatangkan bibit mangrove dari luar kawasan Gili Balu namun gagal tumbuh.

“Dari pengumpulan bibit mangrove, kami menemukan jenis mangrove yang sangat langka, baik di Indonesia maupun luar negeri. Saat ini bibitnya masih dalam tahap adaptasi lingkungan. Bila saatnya tiba, bibit akan dipindahkan dari Pulau Namo untuk ditanam di Pulau lainya dalam kawasan Gili Balu,” urainya.

Koordinator pembibitan mangrove yang berasal dari kelompok Pengelola Wisata Poto Tano, Widi Aspiani, memaparkan, ia bersama teman-teman dipercaya untuk memilih dan merawat bibit mangrove sesuai bimbingan dari PKSPL IPB, selanjutnya bibit mangrove nantinya akan ditanam di Pulau Kambing, Pulau Kalong, Pulau Belang Pulau Kenawa dan Pulau Namo. Sedangkan tiga pulau kecil lainnya tidak akan ditanam mangrove karena areal lahanya hanya berupa batuan.

“Bibit yang ada saat ini terdiri dari 8 jenis mangrove. Kedepan sesuai petunjuk dari PKSPL kami berencana memperbanyak bibit dan jenis mangrove untuk kebutuhan Gili Balu,” papar Widi.

Untuk diketahui, AMMAN bersama PKSPL IPB tidak hanya memberikan wawasan tentang Rehabilitasi Ekosistem Mangrove di Gili Balu kepada kelompok Pengelola Wisata Poto Tano. Pada program TransformaSea, kelompok tersebut juga diberikan bimbingan teknis (bimtek) pengembangan website & digital marketing sebagai bagian dari Peningkatan Kapasitas (Capacity Building) untuk mempromosikan destinasi wisata Gili Balu.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *