Dari Kebun Warga, Nasrin Bawa Kelor NTB Menembus Dunia
Bagi sebagian masyarakat, daun kelor mungkin hanya berakhir di dalam panci, dimasak menjadi sayur untuk santapan keluarga, atau diidentikkan dengan hal-hal mistis, penangkal ilmu hitam. Namun, di tangan Nasrin, kelor memiliki cerita yang jauh lebih panjang. Dari tanaman yang tumbuh di sekitar rumah warga, ia melihat peluang untuk membangun usaha sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Sejak 1993, Nasrin mulai menekuni usaha berbahan dasar kelor. Kegelisahannya sederhana: mengapa potensi kelor Nusa Tenggara Barat (NTB) yang begitu besar hanya dimanfaatkan sebagai sayuran atau penangkal ilmu hitam?
Pertanyaan itulah yang kemudian mengantarkannya sukses meracik kelor menjadi produk herbal bernilai tinggi yang tidak hanya dinikmati di rumah-rumah warga lokal, melainkan telah merambah ke hotel-hotel berbintang hingga berhasil menembus pasar internasional pada pada tahun 2016.
“NTB itu potensi kelor sangat besar. Saya berpikir bagaimana mengolah kelor tidak hanya untuk sayur, sedangkan di luar negeri, kelor sudah dijadikan herbal untuk menyembuhkan beragam penyakit,” ungkap Nasrin.
Namun, perjalanan usaha itu tidak berhenti pada bagaimana menghasilkan produk dan memasarkannya. Nasrin perlahan membangun ekosistem bahan baku dengan melibatkan masyarakat di desanya, bahkan dengan warga lainnya yang berasal dari berbagai kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Warga didorong untuk menanam kelor, Kebun-kebun milik masyarakat kemudian menjadi bagian penting untuk menopang kebutuhan bahan baku industri yang dikembangkannya.
Di titik inilah usaha Nasrin memiliki makna lebih luas. Pertumbuhan bisnisnya tidak hanya dihitung dari jumlah produk yang terjual, tetapi juga dari semakin banyaknya masyarakat yang memperoleh peluang ekonomi dari tanaman kelor.
Kelor yang sebelumnya dipandang sederhana mulai memiliki nilai tambah. Daunnya tidak sekadar menjadi bahan pangan, tetapi diolah menjadi produk herbal bernilai ekonomi.
“Yang saya lakukan ini bukan hanya untuk diri sendiri. Bagaimana usaha ini bisa memberikan banyak manfaat bagi orang banyak,” ujarnya.
Nasrin pun terus mengembangkan produk. Teh Moringa Kingdom kini tidak hanya hadir dalam bentuk minuman teh. Sedikitnya terdapat lima jenis produk berbahan kelor yang dikembangkan, termasuk kapsul dan masker.
Produk-produk tersebut dipadukan dengan bahan alami lain seperti tumbuh-tumbuhan, rempah, akar hingga alang-alang yang diperoleh dari kekayaan alam NTB.
“Kapsul dan masker dikombinasi dengan tumbuh-tumbuhan, rempah, akar dan alang-alang. Semuanya didapatkan secara alami dari alam NTB,” katanya.
Bagi Nasrin, mengolah kelor juga bukan semata-mata soal bisnis. Ada nilai budaya yang ingin dipertahankan. Jamu tradisional dan pemanfaatan tanaman obat, menurut dia, merupakan bagian dari warisan leluhur yang harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
Karena itu, inovasi menjadi cara Nasrin mempertemukan tradisi dengan kebutuhan pasar modern. Tanaman yang selama ini identik dengan kehidupan masyarakat pedesaan dikemas menjadi produk herbal dengan kemasan yang lebih menarik dan memiliki daya saing.
Nasrin percaya, usaha yang dibangun dengan sungguh-sungguh pada akhirnya akan memberikan hasil. Prinsip itu ia pegang melalui kalimat Man Jadda wa Jada—barang siapa bersungguh-sungguh, maka akan mendapatkan hasil.
“Bersungguh-sungguh, kedua niat apa yang kita lakukan ini adalah dapat memberikan banyak manfaat bagi orang banyak. Insya Allah itu akan mendapatkan hasil yang maksimal,” tandasnya.
Keyakinan tersebut pula yang membuat Nasrin terus bertahan mengembangkan kelor selama puluhan tahun. Ia tidak sekadar ingin menciptakan produk dari tanaman lokal, tetapi ingin membuktikan bahwa kekayaan desa dapat menjadi sumber penghidupan apabila dikelola dengan kreativitas dan kesungguhan.
Kini, ketika produk kelornya mulai dikenal hingga pasar internasional, Nasrin justru kembali melihat ke tempat asalnya: masyarakat dan kebun-kebun kecil di desa.
Sebab, bagi dia, perjalanan kelor menuju pasar dunia tidak harus dimulai dari pabrik besar. Ia bisa berawal dari kebun warga, dari tangan petani, lalu tumbuh menjadi produk yang membawa nama NTB ke panggung yang lebih luas. (*)
