Hepatitis Akut Belum Terdeteksi di Sumbawan Barat

Sumbawa Barat – Penapewarta

Perkembangan kasus Hepatitis akut secara global saat ini, terlapor telah ada di 27 negara.Penyakit ini sudah dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena hepatitis akut dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak.

Di Indonesia, terduga hepatitis Akut terdeteksi dibeberapa provinsi antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, kasus terbanyak ada di DKI Jakarta. Kalimantan Timur dan Jawa Timur.

Menyikapi kasus ini, Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) telah melakukan pendataan dan sejauh ini belum ditemukan penyakit yang menyebabkan peradangan hati atau liver tersebut. Meski demikian, upaya pencegahan dan antisifasi mulai dilakukan.

Kepala dinas kesehatan Sumbawa Barat, Hj Erna Idawati

Dalam keterangan persnya, Kepala Dikes KSB, Hj Erna Idawati, SE menjelaskan bahwa, pihaknya memastikan hingga saat ini penyakit hepatitis akut belum terdeteksi di bumi pariri lema bariri.

“Sejauh ini belum ada laporan dari puskesmas dan RSUD Asy-Syifa mengenai pasien penderita hepatitis akut,” paparnya. Rabu (25/05)

“Meskipun belum ditemukan adanya kasus hepatitis akut, upaya pencegahan dan pengendalian serta kewaspadaan dini kasus hepatitis akut harus tetap dilakukan agar tidak ada masyarakat yang terjangkit, khususnya anak-anak,” sambungnya.

Lebih jauh dijelaskan, upaya antisipatif yang dilakukan antara lain penyiapan laboratorium yang memadai di Puskesmas dan RSUD, Tenaga Kesehatan siaga dan responsive jika menemukan tanda dan gejala hepatitis akut, system pelaporan yang memadai dan sosialisasi kepada masyarakat tentang cara pencegahan penularan hepatitis akut.

Selain itu, telah terdapat Infrastruktur untuk deteksi dini kasus hepatitis akut seperti laboratorium dan ketersediaan reagen untuk melakukan pemeriksaan fungsi hati. Ketika muncul gejala seperti mual, muntah akut, diare akut, lemah, kehilangan nafsu makan, demam, gatal, kuning pada mata dan kulit, buang air kecil seperti teh, nyeri bagian perut, nyeri otot dan persendian, perubahan warna BAB/feses (pucat) dan sesak nafas, maka dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium untuk penapisan antara penyakit hepatitis akut dengan penyakit lain.

“Penyiapan SDM Kesehatan juga ditingkatkan untuk mengantisipasi jika seandainya terjadi peningkatan kasus dan KLB hepatitis akut,” jelasnya.

Ia menambahkan, guna memastikan hal ini berjalan sesuai SOP, Dikes KSB telah menyampaikan regulasi kepada fasilitas pelayanan Kesehatan seperti Puskesmas, RS dan dokter praktek mandiri terkait tatalaksana pelayanan dan alur rujukan pemeriksaan laboratorium bagi pasien dengan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya. Pelaporan jika seandainya ada kasus juga perlu diperhatikan agar system penanganan kasus lebih sistematis dan terintegrasi, system pelaporan melalui NAR Hepatitis dilakukan terintegrasi dalan Sisrute.

“Untuk mencegah penularan hepatitis akut Masyarakat diminta untuk menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) agar terhindar dari penyebaran penyakit hepatitis akut. Penyakit Hepatitis ditularkan melalui makanan, minuman, cairan tubuh dan darah yang tercemar/terinfeksi virus hepatitis. Selain PHBS, protokol kesehatan 3M juga harus diterapkan karena untuk menghindari penyakit hepatitis akut sama halnya dengan virus COVID-19,” tandasnya. (“)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *