Jaga Identitas Generasi Muda, KSB Susun Bahan Ajar Berbasis Nilai Tradisi
Sumbawa Barat – Penapewarta
Di tengah gempuran modernisasi dan kompleksnya tantangan zaman, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mengambil langkah progresif untuk menyelamatkan moral dan identitas generasi muda.
Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang bersinergi dengan Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) Kamutar Telu, menggelar Loka Karya Penyusunan Bahan Ajar Muatan Lokal Nilai-Nilai Tradisi Sumbawa.
Kegiatan yang digelar selama dua hari tersebut, resmi ditutup pada hari ini Selasa (22/9/2026). Kegiatan diikuti sebanyak 60 peserta yang terdiri dari para guru SD, SMP, pengawas sekolah, hingga pakar adat berkumpul untuk merumuskan formula pendidikan karakter yang berakar kuat pada kearifan lokal.

Loka karya ini bukan sekadar formalitas di atas kertas, melainkan sebuah gerakan konkret untuk melahirkan panduan pengajaran muatan lokal yang siap diimplementasikan di seluruh sekolah dasar dan menengah di KSB.
Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, ST., M.Si., mengungkapkan kegelisahan mendalamnya terhadap tumbuh kembang anak-anak masa kini. Menurutnya, tantangan moral dan sosial yang dihadapi generasi digital jauh lebih berat dan kompleks dibanding generasi sebelumnya.
“Ada kekhawatiran besar bahwa nilai adat dan kepribadian kita yang kelokalan justru berbalik menjadi hal yang asing bagi anak-anak hari ini,” ujar H. Amar Nurmansyah dalam arahannya.
Bergerak dari keprihatinan tersebut, Bupati menegaskan pentingnya memanfaatkan ruang kelas sebagai benteng pertahanan budaya. Salah satu strategi unik yang diusung adalah menyisipkan nilai karakter melalui kekuatan bahasa dan ungkapan lokal Sumbawa.
Bupati mencontohkan konsep kesantunan seperti ungkapan “ila” atau “pina ila”—sebuah standar nilai tradisional Sumbawa yang mengajarkan tentang rasa malu dan menjaga kehormatan diri. Nilai-nilai filosofis seperti inilah yang ingin diterjemahkan menjadi materi pembelajaran yang relevan, menarik, dan sesuai dengan psikologi perkembangan anak.
“Mencari formula yang tepat harus kita serahkan kepada pakarnya. Kita ingin bahasa lokal yang bernilai tinggi ini diformulasikan ke dalam bentuk bahan ajar agar efektif membangun kepribadian siswa,” tambah Bupati.
Agar program ini tidak menjadi kurikulum yang pasif, panitia pelaksana yang diwakili oleh H. Wahidin, S.Pd., menekankan bahwa hasil akhir dari loka karya ini wajib berupa konsep aplikatif yang siap pakai.
Pemerintah daerah bahkan telah berkomitmen untuk menindaklanjutinya dengan pelatihan khusus bagi para guru muatan lokal.
Melalui terobosan ini, muatan lokal di Sumbawa Barat tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran tambahan yang membosankan. Sebaliknya, program ini diproyeksikan menjadi jembatan emas yang mempertemukan kemajuan teknologi zaman dengan kokohnya fondasi karakter, etika, dan identitas asli anak-anak Bumi Pariri Lema Bariri. (*)
